DR. Irzanita foto bersama Prof. Chairil Anwar Ph.D dan sejumlah tokoh Ikatan Keluarga Agam dan Bukittinggi (IKAB) Palembang serta Wakil Ketua PKDP Palembang, Ismail
• Tunjuk Afdhal Azmi Jambak sebagai Wakil Ketua dan Susun Pengurus
PALEMBANG, Transparanmerdeka.com –
Salah satu tokoh masyarakat Sumateraa Selatan (Sumsel) yang berasal dari Sumatera Barat (Sumbar) DR. Irzanita Wathan menyatakan kesiapannya mendirikan dan memimpin Baitul Maal untuk memberantas praktek riba (pinjaman berbunga tinggi) dan membangun perekonomian umat secara Islami. Tokoh dermawan asal Pariaman ini menunjuk Afdhal Azmi Jambak, SH, Ketua Baitul Maal IKAB Palembang sebagai wakil ketua dan ditugaskan menyiapkan SOP dan perangkat pengurus Baitul Maal Minang Kabau Sumsel.
“Saya setuju Baitul Maal. Kita dirikan Baitul Maal untuk melayani masyarakat Minang di Sumsel ini. Saya siap menjadi ketua. Saya akan serahkan sebagian hasil penjualan salah satu aset saya untuk digunakan Baitul Maal,” kata Bundo Kanduang yang juga merupakan salah satu pengusaha Sumsel yang sukses ketika menerima silaturahim enam tokoh Ikatan Keluarga Agam dan Bukittinggi (IKAB) dan salah seorang tokoh PKDP (Persatuan Keluarga Daerah Pariaman) Palembang di sebuah resto seberang Masjid Raya Taqwa Palembang, Sabtu (2/5/2026).
Tokoh-tokoh IKAB yang datang bersilaturahim adalah; Prof. Chairil Anwar, Ph.D, Drs. H Nofri Dalimunthe, Alriza Gusti, SH, M.Hum (Penasehat), Ir Reflin Arda, MAP, MSi (Ketua Umum), Afdhal Azmi Jambak, SH (Sekretaris Umum) dan Fuad Said, S.Psi (Wakil Sekretaris). Sedangkan tokoh PKDP yang hadir adalah Ismail, Wakil Ketua DPD PKDP Kota Palembang. Mereka datang mengucapkan terima kasih telah mewakafkan qubah untuk masjid IKAB Daarul Mukhlishin, dan menyampaikan rencana pembangunan tempat wudhu dan WC perempuan.

Irzanita yang dikenal sebagai salah satu tokoh Urang Awak di Sumsel yang sangat peduli dengan aktivitas sosial Urang Awak dan warga Sumsel umumnya merespon positif keberadaan Baitul Maal IKAB Palembang yang sudah mulai berjalan sejak Januari 2026 diketuai Afdhal Azmi Jambak, Sekretaris Fuad Said dan Bendahara, Niko Martin ST dengan pengarah Drs. H. Nofri Dalimunthe, Ir. H. Andris K Tamin dan Buya DR Arisandi LC.
“Untuk ibadah, saya siap menjadi Ketua Baitul Maal Minang Sumsel. Mari kita bersama-sama memberantas riba tersebut. Kalau untuk Ketua Umum BMKM Sumsel saya tidak mau, biarlah kasih ke yang muda-muda. Bagusnya untuk Ketua Umum BMKM Sumsel digilir per kabupaten atau kota. Masa jabatan cukup satu periode saja,” katanya setelah mendengar penjelasan bergantian dari Prof Chairil Anwar, Reflin Arda dan Afdhal Azmi Jambak serta ditambahi Ismail.
Irzanita juga merespon baik Ketika Ismail, Wakil Ketua PKDP Kota Palembang yang juga Humas Badan Musyawarah Keluarga Minangkabau (BMKM) Sumsel menyampaikan bahwa ada tokoh BMKM Sumsel menyampaikan kepada Ketua dan sejumlah pengurus PKDP Palembang untuk jabatan Ketua Umum BMKM Sumsel yang akan datang sebaiknya dipercayakan kepada tokoh PKDP karena belum pernah ada orang Pariaman yang menjadi Ketua Umum BMKM Sumsel. Padahal warga Minang terbanyak di Sumsel adalah yang berasal dari Pariaman dan banyak berkontribusi di BMKM.
“Saya setuju itu. Silakan saja kalau memang dipercayakan kepada PKDP, siapkan figur. Bagusnya musyawarah mufakat dalam Musyawarah Besar (Mubes). Tidak usah ada pemilihan-pemilihan. Kalau ada tokoh PKDP yang jadi Ketua Umum BMKM Sumsel, kita dukung dan support. Bagusnya seorang Ketua Umum BMKM Sumsel masa baktinya cukup satu periode saja. Setelah itu gilirkan ke daerah lain,” katanya seraya menambahkan jadi ketua umum tidak harus orang kaya raya. Tetapi yang bisa menyatukan, memanage dan melakukan kegiatan-kegaiatan bermanfaat bagi urang awak yang banyak. Yang penting bisa mengajak banyak tokoh bersatu, saling dukung.
Irzanita sempat menyampaikan catatannya pada Mubes BMKM Sumsel yang lalu. Dia mengira Ustadz Drs. H. Azrai Amran yang dipercayakan jadi ketua umum, ternyata yang lain.
Menurutnya Azrai yang berasal dari Dharmasraya itu salah satu tokoh potensial memimpin BMKM Sumsel, punya lobi luas.

Afdhal Azmi Jambak memaparkan tentang sangat pentingnya Baitul Maal bagi warga masyarakat terutama Urang Awak di Palembang dan Sumsel. “Sebab, cukup banyak warga IKAB Palembang dan urang awak dari berbagai daerah termasuk warga asal Pariaman yang terlibat riba dengan cara minjam uang kepada rentenir dengan bunga sangat tinggi. Istilahnya bank 46. Pinjam 4 kembalikan 6. Praktek riba dengan pinjam uang ke rentenir itu kebanyakan di pasar-pasar. Baik di Pasar 16 Ilir sekitarnya, Lemabang, KM 5, 26 Ilir maupun di banyak pasar lainnya bahkan di perkampungan. Bunganya rata-rata 20 persen 40 hari. Kalau sangat kepepet bisa 100 persen sebulan,” kata Wakil Ketua Bidang Kesra Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sumsel ini.
Bukan hanya di Sumsel, riba juga merajalela di sebagian kampung-kampung, jorong-jorong dan nagari-nagari, pasar-pasar di Ranah Minang, Sumbar serta provinsi lainnya. “Saya dapat kabar di Agam, Pariaman, Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, Pasaman dan kabupaten/kota lainnya sampai ke kampung-kampung pun ada rentenir yang beroperasi. Fakta itu sungguh memalukan dan memilukan. Di daerah dengan filosofi Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah, tetapi riba yang diharamkan Allah merajalela. Sampai saat ini tidak ada gerakan berjamaah dari tokoh-tokoh di Sumbar, baik ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai dan Bundo Kanduang memberantas riba di Ranah Minang itu,” tambah lelaki yang juga advokat tersebut.
Sebagian warga terlibat riba karena terpaksa keadan, karena sebagian saudaranya yang kaya tidak peduli dan tidak melaksanakan kewajibannya mengatasi kesulitan dunsanaknya. Ketika ada yang coba meminjam, tidak diberikan oleh saudaranya yang tergolong berduit itu dengan alasan beragam antara lain; lagi tidak ada duit atau lagi banyak keperluan. Akibat saudara, dunsanak atau kawan tidak mau memberikan pinjaman maka mereka meminjam ke rentenir dengan bunga mencekik leher.
Terkadang ada juga orang yang dianggap kaya tetapi tidak mau pinjamkan uangnya kepada dunsanaknya yang membutuhkan, tetapi menjelek-jelekkan orang tersebut kepada orang lain.
“Oang kaya yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada saudara kandung atau saudara seiman sehingga mengakibatkan saudaranya itu melaksanakan perbuatan haram dilarang Allah berupa riba, tentu ikut berdosa dan diazab Allah kelak,” tambahnya.
Melihat kenyataan mengenaskan itu, IKAB Palembang membuat Baitul Maal untuk fokus bagi warga Agam dan Bukittinggi di Palembang. Jika sudah berkembang nanti, maka akan diberdayakan untuk masyarakat di kampung halaman, Agam dan Bukittinggi.
Afdhal menyebut konsep sederhana Baitul Maal. Baitul Maal menghimpun uang dari tokoh-tokoh, aghnia dan warga berupa pinjaman tanpa bunga yang akan dikembalikan selama 3 tahun atau berupa zakat, infaq maupun sedekah. Kemudian uang tersebut dipinjamkan kepada warga yang membutuhkan tanpa bunga, tanpa administrasi. Uang tersebut harus dikembalikan dalam jangka waktu sesuai kemampuan si peminjam.
Syaratnya, warga yang minjam harus dapat persetujuan dan jaminan dari ketua organisasi kampung (daerah)-nya. Jika uang pinjaman tidak bisa dikembalikan anggotanya, maka pengurus organisasi yang akan melunasi.
Alumni MAN Koto Baru Padang Panjang itu menjelaskan untuk pertemuan pertama pembentukan Baitul Maal terkumpul dana Rp. 45 juta. Dengan rincian pinjaman dari lima orang yakni: Ir. H. Andris K Tamin sebanyak Rp 25 juta, Ir Refin Arda MAP, MSi Rp. 2 juta, Drs. H. Nofri Dalimunthe Rp 1 juta, Dr. Alriza Gusti, Rp 1 juta dan Niko Martin Rp. 1 juta. Selain itu, wakaf, infaq dan sedekah dari Afdhal Azmi Jambak sebesar Rp. 15 juta. Pinjaman itu akan dikembalikan dalam waktu tiga tahun tanpa bunga.

“Belakangan, Pak H. Edison Bupati Muara Enim, Rang Sumando siap memberikan infaq sedekah Rp 30 juta. Beberapa tokoh IKAB lainnya pun sudah menyatakan akan support Baitul Maal IKAB Palembang. Selain itu, kita akan himpun dari warga berapapun mereka mau support istilahnya tangguk rapat,” tambahnya.
Pengelolaan dana Baitul Maal dilakukan dengan prinsip kejujuran, kehati-hatian dan keterbukaan dengan SOP yang jelas dan pada gilirannya akan ada petugas khusus yang diberi gaji dari zakat atau sedekah umat.
Afdhal yang Sekretaris Umum BMKM Sumsel periode 2002-2006 itu menambahkan, usulan pembentukan Baitul Maal untuk Sumsel sudah disampaikan sejak sekitar 20 tahun silam, tetapi belum ada respon dari banyak tokoh.
“Alhamdulillah, kami bersyukur Ibu Irzanita berkenan mendirikan dan memimpin Baitul Maal Minang Kabau di Sumsel ini. Kita siapkan segala sesuatunya dan kita kelola sebaik-baiknya. Pada gilirannya, moga Ibu Irzanita bisa mengajak para tokoh Urang Awak seluruh Indonesia bentuk Baitul Maal di Ranah Minang untuk basmi riba,” paparnya.
Dia menyebut sejumlah nama tokoh Urang Awak yang dermawan di tingkat nasional. Antara lain; Nurhayati Subakat, owner Wardah yang berasal dari Padang Panjang membantu pemerintah saat Covid 19 dan membantu almamaternya Institut Teknologi Bandung Rp 53 milyar. “Kalau saja Ibu Nurhayati itu berkenan membentuk Baitul Maal dan menempatkan uang Rp 40 milyar di Pasar Padang Panjang, insya Allah riba bisa diberantas dari Kota Serambi Mekkah tersebut. Saya yakin, dengan eksistensi Ibu Irzanita,. Insya Allah bisa kita ajak para tokoh Urang Awak secara nasional untuk fastabiqul khairat,” katanya,
Irzanita yang kini berusia 74 tahun mengingatkan, harta milik kita adalah yang diwakafkan, disedekahkan, diinfaq kan atau dizakatkan. Oleh karena itu dia sejak dulu menafkahkan sebagian hartanya untuk ibadah. Termasuk pembangunan Masjid BMKM Sumsel, Al Ikhlas HM Arma, Gedung Cindua Mato bahkan mewakafkan tanah untuk kuburan warga Minang seluas 2,5 hektar.
“Saya wakafkan lahan kuburan itu, agar Urang Awak yang meninggal tidak pusing mikirin kuburannya, semua gratis. Oleh karena itu, di luar beli tanah, saya juga berikan Rp 50 juta untuk biaya penguburan,” paparnya seraya menambahkan harapannya biaya Rp 50 juta itu ditambah oleh warga Minang lainnya.
Mantan Rektor UKB tersebut juga mengingatkan, dia dan banyak warga Palembang membangun masjid dan Gedung Cindua Mato dengan tujuan meringankan Urang Awak. “Yang tidak mampu, digratiskan pesta di GCM itu. Yang mampu bayarlah. Sehingga subsidi silang. Kita wajib mengatasi kesulitan saudara-saudara kita,” tambahnya.
Mengenai saran pembentukan Baitul Maal di Ranah Minang untuk berantas riba di Sumbar, Irzanita setuju. “Tetapi kita fokuskan dulu di Sumsel ini. Moga Baitul Maal Minang di Sumsel bisa kita dirikan dan kita jalankan dengan baik. Setelah itu sambil jalan kita bicarakan dengan dunsanak-dunsanak yang lainnya untuk di Ranah Minang,” tambah owner Universitas Kader Bangsa (UKB) Palembang yang rutin tiap bulan bersedekah ke Masjid Al Ikhlas HM Arma yang dikelola BMKM Sumsel.
Mengenai tawaran dari Ketua Umum IKAB Palembang, Reflin Arda dan Pembina Prof. Chairil Anwar menyampaikan terima kasih atas wakaf qubah Masjid IKAB Daarul Mukhlishin beberapa waktu silam. Sekarang mereka menawarkan untuk wakaf pembangunan WC khusus perempuan dan keramik pinggir pekarangan masjid IKAB. Irzanita akan mengabarkan setelah peresmian masjid miliknya di UKB pada Rabu (13/5/2026).
Ketua Umum IKAB Palembang, menyampaikan Masjid IKAB Daarul Mukhlishin di Tegal Binangun Kelurahan Jakabaring Selatan Kabupaten Banyuasin akan jadi pusat aktivitas dan ibadah kaum muslimin seperti Majelis Taklim, Taman Pendidikan Al Quran, Baitul Maal dan lainnya.
“Kita juga akan bangun lembaga pendidikan di area masjid. Dari TK sampai SLTA bila perlu perguruan tinggi. Kami akan belajar, minta ilmu dari ibu yang sukses membangun UKB dan sekolah lainnya,” tambah Afdhal Azmi Jambak. (aaa)











