TRANSPARANMERDEKA, PALEMBANG – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mulai menunjukkan perbaikan pada Sabtu (17/10/2026) pagi. Meski demikian, dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya masih menjadi perhatian karena konsentrasi partikel halus PM2.5 tetap berada pada tingkat tidak sehat.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyampaikan bahwa konsentrasi PM2.5 di Palembang tercatat sebesar 137,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 08.00 WIB. Angka tersebut menunjukkan adanya penurunan dibandingkan kondisi beberapa jam sebelumnya, meskipun kualitas udara belum sepenuhnya aman.
Berdasarkan data pemantauan yang disampaikannya, kondisi udara sempat memburuk sejak tengah malam. Pada pukul 00.00 hingga 02.00 WIB, konsentrasi PM2.5 berada di kisaran 175,4–244,1 µg/m³.
Situasi semakin mengkhawatirkan pada pukul 03.00 hingga 06.00 WIB. Konsentrasi partikel halus dilaporkan mencapai kategori berbahaya, dengan angka tertinggi sebesar 844,3 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB.
Memasuki pukul 07.00 WIB, konsentrasi PM2.5 turun menjadi 227,9 µg/m³ sebelum kembali menurun menjadi 137,5 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB.

“Kualitas udara Palembang pada pukul 08.00 WIB berada pada kategori tidak sehat, PM 2.5 yang tercatat sebesar 137,5 µg/m³,” ujar Wandayantolis.
Meski terjadi penurunan konsentrasi polutan, kondisi tersebut belum menunjukkan bahwa masyarakat terbebas dari risiko paparan asap. Terlebih, rata-rata konsentrasi PM2.5 selama 24 jam terakhir masih mencapai 251,5 µg/m³.
“Meski mengalami perbaikan, rata-rata udara dalam 24 jam terakhir angka PM2.5 sebesar 251,5 µg/m³,” ungkapnya.
Asap karhutla yang berasal dari wilayah OKI dan sekitarnya disebut turut memengaruhi kualitas udara di Palembang. Perubahan konsentrasi PM2.5 dalam rentang waktu beberapa jam memperlihatkan bahwa kondisi udara masih berfluktuasi, sehingga kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan.
Wandayantolis mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk. Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel dari kabut asap.
“Masyarakat tetap diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara masih buruk. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker dianjurkan dipakai,” tegasnya.
Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan kualitas udara dan mengikuti imbauan dari instansi terkait. Perbaikan kondisi pada pagi hari perlu disikapi dengan hati-hati mengingat paparan partikel halus masih berpotensi mengganggu kesehatan.





