Press "Enter" to skip to content

Jadi Gunjingan, Makam Raja Bukit Siguntang Direnovasi Mirip Halte

Last updated on 20 Okt 2018 - 11:31

PALEMBANG | Transparanmerdeka.com — Makam Raja Sigentar Alam, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus Karang, Panglima tuan Djundjungan, Pangeran Radja Batu Api, Putri Kembang Dadar dan Putri Rambut Selako yang berada di Bukit siguntang, sudah direnovasi pihak pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

Hanya saja renovasi yang dilakukan malah jadi perbincangan dan memantik suara miring dari berbagai kalangan. Pasalnya, design arsitektur dan ornamen  bangunan yang menjadi pelindung makam,  sama sekali tak mengesankan sejarah kerajaan.  Nuansa artististik karifan lokal pada masa lalu di zaman purbakala, juga sama sekali tak terlihat.

Justru jika dipandang kasat mata, pedapuran makam raja-raja dan para pengeran dan keturunannya itu, hanya berupa atap fiber agak miring  yang ditopang tiang-tiang besi. Bangunannya persis halte bus kota, yang berada di pinggir jalan.

Sultan Iskandar Muda saat ditemui di kediamannya mengatakan “Pembangunan Pedapuran di Bukit Siguntang oleh Pemerintah sudah menghilangkan kesan Makam Raja karena bangunannya seperti halte bis, Wisatawan dari Singapura pernah berkunjung ke Makam tersebut kemudian menyatakan kepada saya Pedapuran yang ada saat ini tidak ubah seperti halte bis, bangunan seperti itu akan menghilangkan sejarah Kerajaan dan saya sudah meminta kepada Pemerintah Provinsi melalui Kepala Dinas Pariwisata Sumateta Selatan untuk mengembalikan ke bentuk asalnya,”ungkapnya.

Setelah ditinjau ternyata apa yang dikeluhkan Sultan Iskandar Muda benar adanya, juru kunci makam dan pengunjung yang ada di makam pada hari kamis 18/10 mengeluhkan dengan pembangunan Pedapuran makan Raja Sigentar Alam karena telah menghilangkan kesan sejarah kerajaan.

Salah satu juru kunci makam mengungkapkan,”Bahwa keadaan disekitar makam sangat jauh berbeda sekali dengan aslinya, dengan bangunan seperti sekarang ini tidak ada lagi kesan sejarahnya seharusnya kalau Raja Sigentar alam pada waktu dia menjadi Raja zaman kolonial bikin bentuknya seperti bangunan kolonial, kalau zaman belanda bikin bangunan seperti bangunan belanda, kalau zaman kerajaan bangun seperti bangunan zaman kerajaan, jangan dibikin seperti sekarang ini. seharusnya Pemerintah Provinsi meminta pendapat pada ahli sejarah dan budayawan,”ungkapnya.

Alien warga Sako Kenten salah satu penziarah mengatakan”kalau dulu kami kesini suasana makam seperti bentuk bangunan zaman kerajaan setelah sepuluh tahun saya tidak ziarah, saya datang lagi ditahun ini ternyata bangunan sudah berubah saya berfikir bangunan ini hanya sementara dan akan dibangun seperti bangunan kerajaan lagi, karena kalau seperti ini tidak bagus dan tidak seperti makam kerajaan lagi, kalau dulu saya sering kesini nuansa kerajaannya masih terasa, pertama saya melihat bangunan ini saya berfikir hanya untuk sementara dan akan dibangun seperti dulu lagi, “ungkapnya.

Ternyata makam bukit siguntang memiliki kurang lebih 360 juru kunci yang diatur oleh panitia sembilan, namun untuk pengurusan sekarang hanya ada tiga (3) juru kunci yang dipercaya Suharyadi 2. Rusdi 3. Sulaeman mereka lah yang dipercaya untuk mengurusi makam tersebut, sekarang kayak bukan seperti makam leluhur kerajaan sriwijaya karena nuansa bangunannya tidak menampilkan khas kerajaan lagi.”tambah juru kunci makam tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Selatan Irene C.Sinaga saat akan dimintai penjelasan tentang pembangunan Pedapuran Makam di Bukit Siguntang kamis 18/10 tidak berada di kantornya, Penjaga Kantor Dinas Pariwisata yang tidak mau menyebutkan namanya mengatakan Ibuk Iren lagi dinas luar, ucapnya.(fan)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *